2025-09-23 20:43:18
2025-09-23 20:43:18
SURAKARTA
– Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) Pesantren Muhammadiyah Mambaul Ulum
Andong resmi membentuk struktur kepengurusan serta merancang program kesehatan
terintegrasi yang melibatkan para pengurus pesantren dan santri. Kegiatan ini
dilaksanakan pada Minggu (21/9) dan menjadi bagian dari Challenge Kesehatan yang dirancang untuk membiasakan pola hidup
sehat.
Kegiatan
pada Minggu (21/9) terbagi menjadi tiga agenda utama. Pertama, pembentukan
struktur organisasi Pojok Kesehatan
dan penyusunan rencana tindak lanjut (RTL). Dalam struktur tersebut, Gunardi,
S.Kom. terpilih sebagai koordinator yang bertugas menghubungkan pesantren
dengan Puskesmas serta memastikan kelancaran pelaksanaan program kesehatan.
Sementara itu, Putri Amelia ditunjuk sebagai PIC lapangan putri dan Urwah
Ubaidillah sebagai PIC lapangan putra yang akan bertugas melaksanakan kegiatan
langsung di lapangan.
Diskusi
yang dipimpin oleh Ayu Khoirotul Umaroh S.K.M., M.K.M menghasilkan rencana
kegiatan yang akan dijalankan sebagai bagian dari Challenge Kesehatan beberapa di antaranya, yaitu Sosialisasi Pola
Tidur Sehat: Edukasi mengenai pola tidur yang baik serta dampaknya terhadap
Kesehatan dan Sosialisasi Bahaya Makanan dan Minuman Berpemanis/Instan: Edukasi
mengenai dampak negatif konsumsi minuman saset/instan yang sering dikonsumsi
santri.
“Challenge yang akan dilaksanakan oleh
pengurus pesantren diharapkan dapat dilaksanakan dan dapat melatih pengurus
pesantren sebagai promotor kesehatan bagi santri. Kegiatan ini dilakukan paling
tidak satu kali dalam tiga minggu challenge
yang sudah diberikan” ungkap Ayu, Minggu (21/9)
Kedua,
Pembangunan pojok kesehatan. Pojok Kesehatan akan menjadi pusat layanan
kesehatan sederhana di pesantren. Pojok Kesehatan yang dibangun dilengkapi
dengan tempat tidur, obat-obatan, serta poster edukasi yang merupakan hasil
karya dari santri. Keberadaan pojok kesehatan diharapkan dapat membantu
fasilitas Kesehatan serta menjadi sarana konsultasi awal terkait permasalahan
kesehatan yang dialami santri.
Ketiga,
penerapan budidaya lele untuk ketahanan pangan. Budidaya lele dan penanaman
sayur kangkung sebagai bentuk inovasi dalam ketahanan pangan. Hasil panen
diharapkan dapat menunjang kebutuhan gizi santri sekaligus mendidik untuk
peduli pada kemandirian pangan.
Kegiatan
ini disambut antusias oleh pengurus dan santri. Pada pembangunan Pojok
Kesehatan maupun penerapan budidaya lele, para santri turut serta membantu
sehingga suasana gotong royong sangat terasa.
“Kami
berharap melalui pembentukan struktur Poskestren, pembangunan Pojok Kesehatan,
serta budidaya lele, para santri semakin terbiasa menjalani pola hidup sehat
sekaligus mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan,” pungkas Ayu (21/9).